ansietas
Rekan-rekan
blogger, pernahkah Anda merasa tertekan, kesepian, dan tidak tertarik dengan
aktivitas yang biasa Anda lakukan? Hati-hati, ini bisa menjadi tanda depresi.
Depresi adalah gangguan mental yang mempengaruhi emosi, pikiran dan perilaku
seseorang. Orang yang depresi sering merasa sedih dan tidak tertarik dengan
aktivitas mereka yang biasa. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai masalah
emosional dan fisik sehingga menurunkan kinerja penderitanya. Seseorang yang
depresi bisa meliputi perasaan tidak berdaya dan putus asa, bersama dengan
perasaan sedih, apatis, dan kesengsaraan. Selain itu, orang yang terkena
kehilangan energi sehingga mudah lelah dan malas melakukan aktivitas. Depresi
dapat bersifat kronis atau bahkan berulang dan dapat mempengaruhi kemampuan
seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Depresi bisa menjadi lebih
buruk dan bertahan lebih lama jika tidak ditangani dengan benar. Dalam kasus
yang parah, depresi menyebabkan penderita melukai diri sendiri, yang mengarah
ke pikiran untuk bunuh diri.
Tanda
dan gejala depresi
Ketika seseorang
mengalami depresi, hal itu mempengaruhi orang tersebut dalam banyak hal,
termasuk pikiran, tubuh, dan perilakunya. Depresi masih merupakan kondisi
ringan, dan kebanyakan orang tidak memiliki gejala. Kemudian, ketika puncaknya
terjadi, ini merupakan masalah psikologis yang sulit diatasi. Beberapa gejala
depresi yang paling umum meliputi:
• Gelisah,
depresi, perasaan hampa, putus asa
• Kurang tenaga,
merasa lelah, lemas, letih.
• Masalah tidur
(bisa parah, bisa kurang sekali durasi tidurnya)
• Kehilangan minat
dan kesenangan dalam aktivitas yang sebelumnya menyenangkan
• Rasa bersalah,
pesimisme, dan ketidakberdayaan
• Ketidakmampuan
untuk berkonsentrasi
• Memiliki pikiran
untuk bunuh diri. Gejala depresi pada anak adalah kurangnya minat bermain permainan
dan bersosialisasi dengan teman, sehingga mereka lebih suka menyendiri. Depresi
pada anak juga membuat mereka mudah marah, menangis dan kecewa.
Risiko
depresi
Depresi biasanya
terjadi pada orang muda antara usia 20 dan 30, meskipun semua kelompok umur
memiliki risikonya sendiri. Lebih banyak wanita daripada pria yang didiagnosis
dengan gangguan mental ini, tetapi wanita lebih sering mencari pengobatan
segera. Depresi pada orang tua bisa berdampingan dengan kondisi medis serius
lainnya. Contohnya termasuk diabetes, kanker, penyakit jantung dan penyakit
Parkinson. Penyakit kronis ini memburuk ketika ada depresi. Terkadang, obat
yang diminum untuk penyakit fisik ini dapat menyebabkan efek samping yang
mengarah pada depresi. Banyak hal yang bisa memicu depresi, antara lain:
• Memiliki riwayat
keluarga dengan masalah kesehatan mental.
• Penggunaan alkohol atau narkoba yang
berlebihan.
• Memiliki karakteristik tertentu, seperti
rendah diri, egois, pesimis atau ketergantungan pada orang lain.
• Memiliki penyakit kronis atau serius,
seperti penyakit hormon tiroid, cedera kepala, HIV/AIDS, diabetes, kanker,
stroke, sakit kronis atau penyakit jantung.
• Mengkonsumsi
obat-obatan tertentu, seperti obat tekanan darah atau obat tidur.
• Mengalami trauma, seperti kekerasan seksual,
kematian dan kehilangan orang yang dicintai atau masalah keuangan.
• Masalah
kesehatan fisik
• Peristiwa
kehidupan yang penuh tekanan
• Berakhirnya
suatu hubungan, kematian orang yang dicintai, masalah keuangan, dll.
• Takut,
terintimidasi atau diserang
Efek
depresi pada kesehatan fisik
Depresi yang tidak
diatasi dapat membahayakan diri sendiri, juga orang di sekitarnya. Alasan untuk
ini adalah bahwa seseorang yang menderita depresi biasanya sedang menghadapi
masalah hidup atau mungkin sedang berada di titik terendah, melihat masa depan
dengan putus asa, dan memiliki pikiran negatif tentang dirinya sendiri dan
orang lain. Juga, orang yang melihatnya sering mengalami kesulitan berpikir
jernih dan rasional, pikiran mereka secara otomatis merasa tidak berdaya dan
adanya dorongan untuk melukai diri sendiri dan bunuh diri. Tidak hanya itu,
depresi dapat mempengaruhi kesehatan fisik. Banyak stres akan merangsang hormon
tertentu dalam tubuh yang menyebabkan detak jantung cepat dan tekanan darah
tinggi.
Pada anak-anak dan
orang dewasa, depresi pada akhirnya akan mencegah perubahan nafsu makan,
menyebabkan masalah dan perubahan berat badan, yang bisa tinggi atau rendah.
Depresi juga dapat menurunkan daya tahan tubuh, yang membuat tubuh lebih rentan
terhadap infeksi. Selain itu, depresi mempengaruhi metabolisme gula darah dalam
tubuh dan juga mengurangi hasrat seksual. Tidak jarang depresi menyebabkan
sakit kepala dan gangguan pencernaan yang tidak merespon pengobatan.
Gejala
depresi
Depresi bisa lebih
dari sekadar perasaan sedih atau tertekan. Seseorang dengan masalah pada
tingkat yang sangat parah dapat menyebabkan berbagai gejala yang berbeda.
Beberapa gejala dapat memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat terjadi di
bagian tubuh lainnya. Gejalanya juga bisa intens atau datang dan pergi.
Seseorang dikatakan depresi apabila mengalami gejala-gejala di bawah ini hampir
setiap hari selama setidaknya dua minggu. Berikut adalah beberapa kemungkinan
gejala depresi:
• Merasa bersalah
sepanjang waktu.
• Merasa putus
asa, rendah dan tidak berharga.
• Perasaan
khawatir dan cemas sepanjang waktu.
• Suasana hati
yang buruk atau kesedihan yang terus-menerus.
• Marah atau
emosional.
• Mudah menangis.
• Kesulitan
berkonsentrasi, berpikir dan membuat keputusan.
• Apatis dan
kurangnya motivasi dari segala hal.
• Muncul pikiran
untuk menyakiti atau membunuh diri sendiri.
• Terus-menerus
merasa lelah dan lesu.
• Perubahan siklus
menstruasi pada wanita.
• Sembelit.
• Gerakan dan
bicara lebih lambat dari sebelumnya.
• Hilangnya libido.
• Masalah tidur.
• Perubahan berat badan dan nafsu makan. Tidak
semua orang dengan depresi mengalami semua gejala ini. Beberapa orang hanya
mengalami beberapa gejala sementara yang lain mungkin mengalami banyak gejala.
Derajat dan frekuensi gejala dan durasinya dapat bervariasi tergantung pada
orangnya.
Dokter akan
mendiagnosis depresi dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan psikologis dan tes lain seperti tes darah jika diperlukan.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyebab depresi. Berikut deskripsi
lengkapnya:
• Pemeriksaan
fisik: Seorang dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan mengajukan
pertanyaan kesehatan. Dalam beberapa kasus, depresi dikaitkan dengan masalah
kesehatan fisik yang mendasarinya.
• Pemeriksaan
laboratorium : Dilakukan untuk memastikan masalah kelenjar tiroid yang
merupakan salah satu penyebab depresi adalah hitung darah total. Tenaga medis
dapat mendeteksi jika ada kelainan pada tubuh sehingga dapat segera ditangani.
• Evaluasi
psikologis: Seorang profesional kesehatan mental akan mengajukan pertanyaan
tentang gejala, pikiran, perasaan, dan pola perilaku Anda. Selain itu, pasien
mungkin diminta mengisi kuesioner untuk menjawab sejumlah pertanyaan guna
menilai kesehatan mental mereka.
• DSM-5. Dokter
juga dapat menggunakan kriteria depresi yang tercantum dalam Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), yang diterbitkan oleh American
Psychiatric Association. Masalah
Depresi adalah
gangguan mental serius yang dapat membunuh orang dan keluarganya. Depresi
memburuk jika tidak diobati dan menyebabkan masalah emosional, perilaku dan kesehatan
yang mempengaruhi semua bidang kehidupan penderita. Beberapa masalah yang dapat
timbul akibat depresi antara lain:
• Kelebihan berat
badan atau obesitas, yang dapat menyebabkan penyakit jantung dan diabetes.
• Pelarian ke
alkohol atau penggunaan narkoba.
• Kecemasan,
gangguan panik atau ketakutan terhadap orang.
• Menyebabkan
konflik keluarga, masalah hubungan, dan masalah di tempat kerja atau sekolah.
• isolasi diri.
• Bunuh diri, percobaan bunuh diri atau bunuh
diri ada.
• Keinginan untuk menyakiti diri sendiri.
• Kematian dini karena kondisi medis.
Penatalaksanaan
Hidup dengan
depresi memang sulit, tetapi pengobatan dapat membantu meningkatkan kualitas
hidup penderita depresi. Cobalah menemui ahli kesehatan untuk menanyakan
tentang pengobatan terbaik. Jika depresi Anda ringan, perawatan diri masih bisa
membantu.
Jika perawatan
diri tidak lagi efektif, orang yang terkena dapat mencari konseling psikologis
atau obat yang diresepkan oleh dokter. Dokter dapat mengambil sejumlah langkah
untuk membantu penderita depresi, termasuk:
• perawatan
Pribadi
Jika depresi Anda
masih ringan, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengurangi
gejala depresi. Bagi banyak orang, olahraga teratur membantu menciptakan
perasaan positif dan meningkatkan suasana hati. Tidur yang cukup dan teratur,
makan makanan yang sehat, dan menghindari alkohol (depresan) juga dapat
membantu mengurangi gejala depresi.
• Psikoterapi
Perawatan ini
sering direkomendasikan untuk depresi ringan hingga berat. Psikoterapi sering
dikombinasikan dengan obat-obatan.
Jenis perawatan
ini untuk mengobati depresi:
• Terapi perilaku
(CBT). Terapi ini bertujuan untuk membantu orang yang bermasalah untuk
melepaskan pikiran dan perasaan negatif dan menggantinya dengan respons
positif.
• Terapi problem
solving (PST), untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengatasi
pengalaman stres.
• Interpersonal
Therapy (IPT) untuk membantu mengatasi masalah yang muncul saat berinteraksi
dengan orang lain.
• Terapi
psikodinamik untuk membantu orang dengan masalah memahami apa yang mereka rasakan
dan bagaimana bereaksi terhadap perasaan ini. Tergantung pada tingkat keparahan
depresi, pengobatan mungkin memakan waktu beberapa minggu atau lebih lama.
Dalam kebanyakan kasus, perubahan signifikan dapat dilakukan dalam 10-15 kali
sesi.
• Obat-obatan
Ketidakseimbangan
kimia di otak adalah salah satu penyebab depresi. Dokter dapat meresepkan
antidepresan untuk membantu mengubah kimia otak seseorang. Secara umum,
antidepresan tidak memiliki efek stimulasi pada orang yang tidak depresi.
Antidepresan dapat memperbaiki gejala dalam satu atau dua minggu pertama
penggunaan, tetapi mungkin tidak melihat manfaat penuh selama dua hingga tiga
bulan. Dalam beberapa kasus, obat psikotropika lain mungkin berguna. Dokter
sering menyarankan pasien untuk terus minum obat selama enam bulan atau lebih
ketika gejala membaik. Perawatan jangka panjang mungkin disarankan untuk
mengurangi risiko depresi di masa depan pada mereka yang paling berisiko.
• terapi stimulasi
otak
Jenis perawatan
ini sering berfokus pada orang dengan depresi yang tidak responsif terhadap
pengobatan, memiliki gejala psikosis, dan mereka yang mencoba bunuh diri. Jenis
terapi stimulasi otak meliputi:
• Terapi kejang
listrik (ECT). Perawatan ini melibatkan pengiriman arus listrik ke otak,
melalui kulit kepala, untuk menyebabkan kejang singkat. • stimulasi magnetik
transkranial (TMS). Stimulasi otak jenis ini dilakukan dengan menggunakan medan
magnet yang diubah menjadi arus listrik di bawah tengkorak pasien. Cara ini
bertujuan untuk membantu mengontrol emosi pasien. TMS adalah terapi tambahan
yang dikombinasikan dengan pengobatan non-invasif (tidak memerlukan
pembedahan).
• stimulasi saraf
vagus. Nah, perawatan seperti ini jarang terjadi. Prosedur ini dilakukan dengan
menempatkan elektroda untuk stimulasi saraf vagus yang ditempatkan di leher
pasien. Pencegahan
Tidak diketahui secara
pasti tentang beberapa metode yang efektif untuk mencegah depresi. Karena sulit
untuk mengetahui segala sesuatu yang menyebabkannya, sehingga sulit untuk
mencegahnya. Namun, jika Anda menderita depresi, ada baiknya untuk mencegah
kekambuhan dengan mempelajari metode yang efektif. Contohnya termasuk perubahan
gaya hidup dan obat-obatan yang efektif. Ada beberapa cara untuk mencegah
depresi, antara lain:
• Hindari kesepian
dengan mencari komunitas yang baik.
• Sederhanakan
hidup Anda dengan membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang.
• Berolahraga
secara teratur, minimal 3-5 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit.
• Makan makanan
sehat dan kebiasaan makan secara teratur.
• Membuat hidup
lebih damai dan menghindari stres.
• Hindari minum
alkohol dan obat-obatan.
Sampai disini artikel mengenai depresi semoga dapat membantu masyarakat luas dalam memahami dan mengurangi Tindakan suicide yang semakin marak di era modern ini. See you in next article.
Komentar
Posting Komentar